“Ayo pulang, masuk ke rumah nanti diculik Lampor kamu!” Begitu kata Ibu saya sewaktu saya kecil kalau hari sudah mulai gelap tapi saya masih bermain di luar rumah, sebagai anak kecil tentu saja saya jadi takut dan segera masuk ke rumah. Tapi apa itu “Lampor?” Lampor adalah semacam hantu yang suka berkeliaran saat menjelang Magrib mencari anak-anak yang masih bermain di luar dan menculik dan membawanya ke alam gaib tempat tinggal mahluk gaib itu (kata Ibu saya Lampor masih anak buahnya Ratu Kidul/Nyi Roro Kidul yang mungkin bertugas mencari orang/anak untuk dijadikan budak atau pelayan sang Ratu).

Di budaya Jawa dikenal macam-macam jenis hantu, selain Gendruwo dan Wewe Gombel ada satu jenis hantu yang melekat di benak saya yaitu hantu Glundung Pringis, yaitu hantu berbentuk potongan kepala yang biasanya mengganggu orang yang berjalan sendirian di antara pepohonan di malam hari dengan cara menjatuhkan dirinya dari atas pohon, ketika si orang itu mendengar suara gedebuk dan mencari sumber suara maka dia akan melihat potongan kepala mengelinding dan berhenti tepat dihadapannya sambil nyengir meringis lebar, jadi jika Anda berjalan kaki malam-malam dan mendengar suara benda jatuh jangan hiraukan bisa jadi itu Glundung Pringis (amit-amit jangan sampai saya ketemu mahluk menyeramkan yang satu ini :D ).

Oya di Kakak-kakak Ibu saya yang laki-laki waktu mereka masih remaja untuk mengisi waktu senggang saat bulan purnama di halaman rumah mereka di Prambanan, mereka sering memainkan permainan “Nini Towok,” yaitu permainan untuk memanggil hantu atau arwah orang-orang yang sudah meninggal yang sering juga dikenal sebagai Jailangkung, yah namanya di kampung jaman dulu dimana belum banyak hiburan, tapi kok ya mainnya “Nini Towok” bukannya permainan/dolanan normal lainnya :?

Mereka biasanya sukses dalam memanggil arwah dengan bantuan boneka gayung air batok kelapa yang diberi kayu yang diikat melintang sebagai tangan dan diberi potongan kain sebagai bajunya juga tongkat panjang melintang yang diberi kapur atau alat tulis untuk sarana komunikasi dengan cara menulis pada sepotong papan yang diberi kertas. Boneka Nini Towok ini diikat tali pada kedua “tangan”nya yang ujungnya dipegangi oleh dua orang yang menjaga kestabilan jika boneka itu dirasuki roh dan bergerak-gerak.

Jika sudah dimasuki arwah maka mereka pun bisa nanya macam-macam, mulai dari sejarah si arwah waktu masih hidup, apa kesukaannya, sampai kenapa dan bagaimana si arwah bisa meninggal, bahkan kadang bisa memberikan ramalan-ramalan bagi si penanya, termasuk nomor lotere.

Nah suatu saat ada satu arwah yang tidak mau kembali ke alamnya, ternyata si arwah menyukai salah seorang Pakde saya, sampai-sampai harus dipanggil orang pintar segala untuk mengusir si arwah penasaran itu. Tidak jelas apakah karena kejadian itu keluarga Ibu saya jadi kapok main begituan atau tidak.

In memoriam:

Suzanna (Ratu Horor Indonesia)
14 Oktober 1942 – 15 Oktober 2008

Referensi:
Kompas.com – Ratu horor Suzanna meninggal

Wikipedia – Suzanna

Gambar diambil dari sini