Kemarin saya menghadiri acara halal-bihalal Keluaga besar Muhammad Ali, inilah acara kumpul-kumpul bareng dari keluarga Bapak saya yaitu Mbah Kakung Muhammad Ali dan Mbah Putri Satirah, setelah sekian lama tidak diadakan, dihadiri oleh keluarga-keluarga yang tinggal di Jakarta (tadinya Mas Anas dari Tasikmalaya juga mau datang tapi berhalangan, kemudian Ari putranya Bulik Sri dari Cinere juga batal hadir karena motornya mogok terjebak banjir di daerah Lebak Bulus).
Tepat pukul 11 siang saya sudah tiba di Rumah Makan Wong Solo di berlokasi di depan Bintaro Trade Center, ternyata tempatnya ramai sekali penuh dengan tenda-tenda jualan, ternyata sedang ada bazaar, weleh parkirannya sempit sekali dan tidak ada tempat lagi, sama tukang parkirnya disarankan untuk parkir di belakang, ya sudah saya keluar lokasi terus jalan mengitari blok menuju lokasi yang dimaksud, setibanya disitu ternyata tempat parkirnya lumayan jauh dari pintu masuk belakang restoran, dari parkiran masih harus menyeberangi lapangan (taman gersang) sekitar 50 meteran, buat orang sehat sih itu dekat, tapi buat Bapak saya yang susah jalannya jarak segitu terasa jauuuh sekali.
Dengan berspekulasi saya kembali ke bagian depan restoran, mudah-mudahan di tempat parkirnya sudah ada yang lowong, dan syukurlah ternyata pas tiba disitu ada mobil yang lagi mundur dari parkiran lalu keluar dari lokasi, lalu saya pun memarkirkan Kijang saya disitu.
Setelah masuk ke dalam restoran kami pun diantar pelayan ke ruang makan yang sudah ditetapkan, dan weleh kok kosong blong? Dimana orang-orang? Yang punya gawe pun tak terlihat batang hidungnya, mulailah saya keluarin HP kuno saya dan meneleponin mereka-mereka itu.
Mbak Asih si seksi repot masih ada di jalan, macet katanya, lalu Denis sang sponsor ternyata lagi nyari ATM buat ngambil duit katanya, ya sudah saya dengan keluarga saya pun duduk-duduk di ruangan berukuran sedang ber-AC yang cukup untuk sekitar 40 orang, dengan diiringi oleh jingle musik “Susu Murni Nasional” yang dimainkan berulang-ulang dari peserta bazaar yang ada di luar ruangan.
Sekitar setengah jam kemudian Denis dan Ami (istrinya) muncul, setelah bersalam-salaman dengan Bapak, Ibu, dan adik saya (juga saya) dia pun mulai sibuk mempersiapkan segala hal, mulai dari speaker besar dengan mikroponnya, memanggil pelayan untuk mengatur meja prasmanan, hingga mengeluarkan kue-kue yang dibawanya ke piring-piring saji.
Kemudian dengan selang beberapa menit berdatanganlah, Bulik Sri beserta Bagus dan Cipto putranya (minus Om Naryo yang sedang sakit), keluarga Mbak Asih beserta keluarga Eri dan Dini adik-adiknya, keluarga Om Dwi Koen beserta keluarga Iwan putranya, keluarga Benny adik saya, dan terakhir keluarga Dono putranya Om Dwi Koen (begitu urutannya kalau nggak salah inget).
Acaranya sih tidak formil-formil amat, ngobrol ngalor ngidul hingga membahas minuman jus poligami yang merupakan satu dari sedikit minuman yang masih tersedia dari banyaknya nama minuman jus di daftar menu (Denis sampai komplain ke manajemen restoran meminta mereka pergi ke Carrefour yang ada di dekat situ buat beli buah-buahan karena minuman jus yang kami pilih ternyata tidak ada).
Sekitar jam 12 siang Denis pun membuka acara diikuti dengan beberapa wejangan dari para sesepuh, yaitu Bapak saya yang ngomong sambil termehek-mehek terharu, kemudian disambut oleh Om Dwi Koendoro yang dengan gaya nggak seriusnya membahas jus poligami enak yang baru diminumnya dibandingkan Kelepon yang katanya Monogami karena rasanya kurang manis.
Kemudian giliran Mbak Asih yang mengaku seksi repot dan SMS (maksudnya tukang ngirim undangan lewat SMS), yang kemudian tercetuskan ide pembentuk organisasi tidak berbentuk untuk kelanjutan pertemuan keluarga berikutnya, organisasi dengan ketua Mr. Denis dan wakilnya Mbak Asih dibantu para wakil dua, tiga dan seterusnya yang merupakan contact person dari masing-masing keluarga (bisa kepala rumah tangga atau anak tertua atau yang tinggal di Jakarta), organisasi tanpa bentuk ini anggotanya harus generasi kedua dari keluarga Muh. Ali, semua wakil tersebut harus menulis data keluarga masing-masing (nama, alamat, no. HP, dan email) dan diserahkan ke sekretaris dadakan yaitu the fresh graduated Cipto.
Kemudian acara makan-makan dimulai, wuih makanannya komplit, ada Ayam bakar, ikan goreng, sayur asem, kangkung, bayam, tahu sumedang, tempe penyet, lalapan, dan tiga jenis sambal, ditambah buah pisang dan semangka, dengan minuman teh pahit plus aqua gelas.
Puas makan sekarang acara bebas (padahal dari tadi juga acaranya bebas doang), yang kecil-kecil pada berlarian kesana kemari dan bermain dengan mikropon menyanyikan lagu tidak jelas, yang besar-besar ada yang shalat di masjid, ada yang yang keluar jalan-jalan, juga ada yang malas keluar dan asyik ngobrol di dalam ruangan sejuk itu (saya masuk kelompok yang ini), dan cewek-cewek ngerumpi di pojokan.
Sekitar jam tigaan acara ditutup dengan doa bersama dipimpin oleh suaminya Mbak Eri, dilanjutkan acara foto-foto bersama di ruangan sebelah yang kosong dengan latar belakang tulisan R.M. Wong Solo, semua berjejer dengan para sesepuh duduk di kursi, generasi kedua di belakang dan generasi ketiga di paling depan, juru fotonya bergantian antara Dono dan Iwan dengan memakai lima kamera digital yang ada, jadi total ada sepuluh jepretan.

Berdiri: Benny, Edick (Anak Benny), Diah (Istri Benny), Asih, Suami Dini, Denis, Dini, Ami (Istri Denis), Cherry, Saya, Cipto, Iwan, Fifi (Istri Iwan), Hanif (Anak Iwan), Bagus, Istri Dono, Eri, Suami Eri. Duduk: Om Dwi Koen, Bulik Sri, Aris Wibowo (Bapakku), Bu Liet (Ibuku), Bulik Chur, Radya (Anak Dono). Depan: Hisyam (Anak Dini).
Fotonya saya colong dari sini, kalau mau lihat take-two-nya yang ada Dono-nya disini.
Wah sebuah pertemuan yang menyenangkan, mudah-mudahan kami diberi umur panjang untuk pertemuan berikutnya di tahun depan
NB: Mohon maaf untuk yang namanya saya lupa, tolong absen ke saya



